Kisah Teladan

 

Cara Khalifah Umar Ibnul Khattab Memberantas Korupsi


Ada tekad dari pemerintahan kita untuk menyelenggarakan kepemimpinan negara ini mulai saat ini dan di masa-masa yang akan datang dengan konsep clean goverment (pemerintahan yang bersih), yaitu bersih dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya. dan bagaimana pula Islam memberikan solusi (jawaban) terhadap masalah tersebut? Khalifah Umar Ibnul Khattab telah membuktikannya. Simak juga peringatan Rasulullah SAW kepada para wakil rakyat di pemerintahan. 
Segera setelah Khalifah Umar Ibnul Khattab dilantik menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tindakan pertama yang ia lakukan adalah menyusun konsep mencegah korupsi di kalangan aparat negara. Khalifah yang dikenal sangat tegas dan keras dalam masalah hukum Islam ini, malaksanakan konsepnya dengan rasa keadilan, berani dan tidak pandang bulu.
Kepada para pembesar negara, sipil atau militer, yang kaya dan penuh kemewahan, akan ditanya dengan sorot mata penuh wibawa : “Anna laka hadza ?” (Darimana kau peroleh hartamu ini ?). Lalu ia segera memerintahkan pemeriksa untuk meneliti berapa jumlah kekayaan si pejabat sebelum dan sesudah ia menduduki sebuah jabatan. Jika ada kelebihan, dari mana ia mendapatkannya.
Jika ternyata diketahui bahwa pertambahan kekayaan si pejabat diperoleh bukan dari hasil gaji resmi negara, maka disitalah harta itu dan dimasukkan ke kas negara (baitul maal). harta yang oleh khalifah dianggap bukan hak milik pribadi, dinyatakan sebagai milik umat dan hak milik Allah. Sebab kekayaan demikian bukan mustahil berasal dari hadiah dan sogok kepada pejabat itu untuk mendapatkan kemudahan bagi si penyogok, atau berasal dari pemerasan secara halus atas rakyat atau juga pengaruh kekuasaannya.
Demikianlah, Baitul Maal (BM) bertambah jumlahnya karena hasil sitaan dari berbagai pejabat korup, mulai dari gubernur, komandan pasukan, pemungut zakat bahkan dari kalangan keluarga Khalifah sendiri.
KASUS SANG ISTERI
Di suatu malam, isteri khalifah memakai seuntai kalung mutiara yang sangat indah. Demi khalifah mengetahui isterinya mengenakan kalung tersebut, lalu ia bertanya : “Dari mana kau dapatkan kalung ini ?.”
Dengan rasa senang si isteri menceritakan bahwa kalung itu hadiah dari Kaisar Romawi Timur. Mendengar cerita itu Khalifah menyuruh isterinya melepas kalung tersebut untuk diserahkan ke Baitul Maal melalui Perbendaharaan Negara.
Hal yang sama juga dilakukan atas gubernur Mesir, Amru ibnul Ash. Ketika diketahui dari kekayaan gubernur tersebut ada harta yang tidak halal, maka hartanya disita dan dimasukkan ke BM. Dan semua tindakan Khalifah yang tegas, keras, dan adil itu dilakukan berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah 188 yang artinya :
“Dan janganlah kamu makan harta antara kamu dengan cara yang bathil. Dan jangan kamu suapkan harta itu kepada pembesar negeri (pejabat), supaya dengan jalan itu (kamu) dapat mengambil harta orang lain dengan cara dosa. Padahal kamu mengetahui akibatnya”.
Dan juga hadits Rasulullah SAW : “Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam pemerintahan.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan At-Turmudzy). Dan hadits lain yang menceritakan tentang kemarahan Nabi Muhammad SAW kepada seorang petugas pemungut zakat yang diketahui menerima hadiah yang melaporkan kepada Nabi : “Ini zakat, tapi ini sebagai hadiah orang kepadaku.” Lalu Nabi membentak : “Berdiamlah kau di rumahmu sebagai orang swasta. Nanti kau akan melihat, apakah akan ada orang datang kepadamu untuk memberikan hadiah atau tidak ?.”
Demikian kerasnya hukum Negara Islam, sehingga hadiah atau menerima hadiah untuk para pejabat negara digolongkan sebagai tindak korupsi. Dan hadiah-hadiah demikian harus disetor ke BM.
MENGAPA ISLAM JAYA
Berbagai peringatan dan ancaman yang dikemukakan oleh Nabi SAW terhadap tindakan korupsi dan penyelewengan terhadap negara – yang dalam hukum Islam disebut ghulul – dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah Al-Imran : 161 yang artinya :
“Orang yang melakukan ghulul (mengkorup harta negara), Allah pasti melahirkan ghulul itu (harta korupsinya) di hari kiamat.”
Lalu dijelaskan oleh Rasulullah SAW : “Jika yang dikorupsinya kambing, ia akan mengembek. Jika berupa sapi, ia akan mengeluh dan menanduk koruptornya.”
Demikian besar keyakinan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan yang berpendapat bahwa hancurnya suatu pemerintahan negara akan terjadi karena tidak adanya usaha memberantas yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan terhadap tindakan-tindakan korupsi, kolusi, dan sejenisnya. Hal ini tercermin dalam khutbah akhirnya ketika haji wada’ dalam pesannya :
“Wahai kaumku ! Dengarlah perkataanku dan camkan dalam hatimu, bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi setiap Muslim lainnya. Dan sekarang, kamu sekalian terikat dalam satu ikatan persaudaraan. Oleh karena itu, tidak diperkenankan bagi siapapun diantara kamu untuk memperkaya dirinya dengan milik saudaramu yang lain, kecuali kalau saudaramu itu memberikan kepadamu dengan ikhlas (rela).”
Dengan konsep dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang dilaksanakan dengan tegas, adil, dan tidak pandang bulu inilah pemerintah Islam berkembang dengan pesat dan kuat. Sinarnya memancar ke seluruh dunia. Para pemimpinnya disegani oleh kawan dan lawan karena mengikuti jejak Nabi dalam melaksanakan pemerintahan negara.
Namun demikian, Nabi-pun memperingatkan dengan tegas pula bahwa gagalnya suatu pemerintahan tergantung dari akhlak para pemimpinnya juga. Sabda beliau :
“Kamu menduduki kedudukan orang yang dzalim sebelum kamu, lalu kamu berbuat pula kedzaliman seperti orang yang kamu gantikan itu.”
Sabdanya lagi : “Akan datang suatu masa, dimana hari esoknya lebih buruk dari hari kininya.”
Dan kepada para pemimpin/wakil rakyat, Rasulullah SAW mengingatkan :
Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu akan ditanya mengenai rakyat yang dipimpinnya (HR. Bukhari – Muslim).
Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ia mati, sedang ia masih (dalam keadaan) menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya surga. (HR. Bukhari – Muslim).
Siapa yang diserahi oleh Allah mengatur kepentingan kaum Muslim, lalu ia bersembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka Allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat…. (HR. Abu Dawud – At-Turmudzi).

Visitors like to use keywords:

umar bin khattab korupsi, korupsi di jaman nabi, korupsi zaman nabi, umar bin khotob tentang korupsi, korupsi pada zaman rasulullah, korupsi pada zaman nabi muhammad, korupsi pada masa sahabat, korupsi pada khalifah umar, korupsi khilafah, korupsi jaman nabi muhammad, korupsi jaman nabi, korupsi di zaman rasulullah, korupsi di zaman khalifah, korupsi di jaman rasulullah, korupsi di jaman rasul, korupsi zakat jaman sahabat, korupsi zaman khilafah, Tips membenahi korupsi menurut konsep hadits Nabi muhammad, tidak ada satu konsep untuk mengatasi korupsi, solusi untuk menuntaskan dan membenahi korupsi menurut hadits nabi muhammad



KEAJAIBAN TIGA BURUNG

Burung memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri. Dalam Al-Qur’an Allah mengabadikan beberapa kisah tentang peran burung dalam perjuangan lii’lahi kalimatillah (menjunjung tinggi kalimat Allah). Kalau kita membaca sejarah, terutama sejarah Nabi-nabi Allah SWT., maka kita akan menjumpai kisah kreatifitas burung Hud-hud pada zaman nabi Sulaiman as, sebagaimana telah diceritakan oleh Allah SWT., dalam Al-Qur’an. Suatu ketika burung Hud-hud mengadakan perjalanan tanpa sepengetahuan nabi Sulaiman as. selaku raja, pemimpin dan rasul.


Dalam perjalanannya ia mendapati suatu kerajaan indah yang dipimpin oleh seorang wanita bernama ratu Bilqis. Kemudian ia melihat ratu beserta rakyatnya tidak menyembah Allah. Justru mereka menyembah matahari.

Maka seekor burung Hud-hud tersebut menemui nabi Sulaiman as. dan  menceritakan semua peristiwa yang ia saksikan di kerajaan Bilqis. Mendengar laporan burung Hud-hud nabi Sulaiman as segera mengirimkan sebuah surat  kepada ratu Bilqis dengan diawali kalimat basmalah yang intinya mengajak dia beserta rakyatnya untuk masuk agamanya. Singkat cerita, ratu Bilqis dan rakyatnya akhirnya mengikuti ajakannya.  Melihat peran dan usahanya, penulis menyebutnya (burung da’i). karena melalui kreatifitasnya ia mampu mengislamkan sebuah kerajaan.

Dalam kisah lain disebutkan, pada zaman nabi Nuh as. ketika terjadi banjir yang sangat besar. Beberapa bulan kemudia nabi Nuh as mengutus seekor burung dara untuk melihat kondisi air. Burung dara tersebut langsung terbang ke angkasa melihat situasi perairan. Tak lama kemudian ia mendapati sebatang ranting pepohonan yang muncul ke permukaan air, maka ia menyimpulkan bahwa air bah sudah mulai surut. Kemudian ia membawanya ke hadapan nabi Nuh as. sebagai bukti air sudah mulai surut.

Pada perkembangan selanjutnya, kisah ini dikenal
sebagai awal sejarah ilmu jurnalistik. Burung dara yang diberi tugas oleh nabi Nuh as untuk mencari berita (kondisi air) dikenal sebagai jurnalis. Sedangkan kapal yang ditumpangi nabi Nuh as berserta para pengikutnya disebut tempat redaksi. Berdasarkan kisah tersebut maka penulis menyebut burung dara tersebut sebagai “Burung Jurnalis”.

Lain zaman nabi Nuh as lain pula zaman Nabi Muhammad saw., pada zaman Rasulullah kisah mengenai burung terkenal ketika terjadi penyerbuan pasukan gajah ke kota Makkah. Kemudian Allah mengutus pasukan burung Ababil untuk melawannya. Dengan bersenjatakan batu kerikil burung-burung tersebut melemparkannya kepada pasukan gajah, tak lama kemudian pasukan gajah roboh. Berkat kecerdikan dan ketangkasan pasukan burung itu di medan laga, maka penulis menamainya sebagai “burung militer”.

Pada dasarnya apa yang dilakukan burung-burung pada kisah di atas dapat dilakukan manusia. Seperti aktivitas berdakwah (Burung Hud-hud), menjadi wartawan (Burung Dara) dan menjadi pasukan militer (Burung Ababil). Dan ketiga-tiganya memiliki peran signifikan dalam kehidupan manusia. Kegiatan berdakwah merupakan suatu kewajiban umat manusia. “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah ….”

Seorang jurnalis atau pemburu berita sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Setiap orang butuh informasi (berita). Ada yang mengatakan, orang yang mampu menguasai masa depan adalah orang yang mampu menguasai informasi. Demikian juga dengan kemiliteran, bila sebuah negara tidak ada pasukan militernya, maka negera tersebut tidak akan bertahan lama. Pasukan militer ini dibutuhkan untuk mempertahankan negara dan menjaga keamanan bangsa dan negara. Oleh karenya dibutuhkan skill (keterampilan) dalam kemiliteran. Walaupun demikian, bukan berarti setiap orang menjadi pasukan militer tanpa ada yang mendalami ilmu agama dan pengetahuan. (dzuzant)

 

Imam Nawawi  ( Syaikhoniy ) 

 (631 – 676 H / 1233 – 1277 M)

Namanya ialah Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu al Nawawi. Dilahirkan di Nawa sebuah wilayah di Damsyik Syam pada bulan Muharram tahun 631 Hijrah. Kebolehan menghafaz Al-Quran sejak kecil lagi. Pada tahun 649 Hijrah, ketika berusia lingkungan sembilan belas tahun telah pergi ke kota Damsyik untuk belajar. Mendalami ilmu di madrasah al-Ruwahiyyah atas tanggungan madrasah itu sendiri.
Karangannya adalah banyak, di antara kitabnya yang begitu popular dalam pengajian ilmu ialah Matan al-Arbain (hadis 40), Riyadhus Salihin, Syarah Sahih Muslim dan al-Adhkar. Di Indonesia nama beliau terkenal dengan kitabnya “Minhajut Thalibin”, sebuah kitab fiqih dalam madzhab Syafi’i yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren di tanah air.

Kehidupannya dihabiskan kepada bakti dan khidmat suci terhadap penyebaran dam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Makan minumnya hanya sekali dalam sehari, sekadar memelihara kesihatan badannya. Juga tidak sangat menghiraukan akan soal pemakaian dan perhiasan, cukuplah apa yang memadai sahaja. Tidak juga gemar akan makan buah-buahan kerana khuatir akan mengantuk yang akan mengganggu tugas sehariannya.
Seorang yang begitu bertakwa menurut erti kata sepenuhnya, wara’nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama’ yang amatlah suka ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi kerana buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.
Sepanjang hayatnya sentiasa istiqamah dalam menjalankan kewajipan menyebarkan ilmu dengan mengajar dan mengarang di samping senantiasa beribadah di tengah-tengah suasana hidup yang serba kekurangan, sehingga hidupnya dilingkungi oleh usaha dan amal saleh terhadap agama, masyarakat dan umat.
Beliau pernah diusir keluar dari negeri Syam oleh sultan al-Malik al-Zahir yang tidak senang akan fatwa yang dikeluarkan olehnya. Beliau bukanlah seorang ulama’ yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat ummat. Beliau memimpin ummat bukan ummat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang sesiapa, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama’ pewaris nabi (warithatul anbiya’).
Sepanjang hayatnya banyak menulis, mengarang, mengajar dan menasihat. Inilah yang telah mengangkat ketinggian peribadinya dan dikagumi. Imam Nawawi wafat pada 24 Rejab 676 Hijrah, dan dimakamkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan ‘ilmunya kepada agama Islam dan umatnya. Sekianlah, mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya ke atas beliau. Amin.
Kitab-kitabImam Nawawi yang terkenal
1. Syarah sahih muslim,
2. Riyadhus Salihin,
3. Al-Adzkaar,
4. Al-Tibyan fi adab hamalat al-Quran,
5. al-Irsyad wa al-Taqrib fi ‘Ulum al-Hadith,
6. al-Aidah fi Manasik al-Hajj,
7. Al Majmu’ Syarah Muhazzab,
8. al-Raudah,
9. Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat,
10.  al-Minhajut Thalibin
11. Matan al-Arbain
FATWA IMAM NAWAWI YANG MENGGEMPARKAN
Menurut riwayat bahawa apabila baginda sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (monggol) lalu digunakanlah fatwa ‘ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. ‘Ulama fiqh negeri Syam telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah “Masih adakah lagi orang lain”. “Masih ada, al-Syaikh Muhyiddin al-Nawawi” – demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda.
Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama ‘ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mahu memberi fatwanya dan enggan. Baginda bertanya: “Apakah sebabnya beliau enggan?” Lalu beliau memberi penjelasan mengapa beliau terpaksa menerangkan sikapnya dan keenggannya memfatwakan sama seperti para ‘ulama. Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut! Ampun Tuanku! Adalah patik sememangnya mengetahui dengan sesungguhnya bahwasanya tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah patik telah mendengar bahawanya tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tunaku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan pernag sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.
Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya kerana fatwanya yang amat menggemparkan sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para ‘ulama Syam telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata: “Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa”.
(Sumber rujukan asal, HADIS EMPAT PULUH, Cetakan Dewan Pustaka Fajar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar